Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeSelamat Datang
Sirih berlipat sirih pinang
sirih dari pulau mutiara
pemanis kata selamat datang
awal bismillah pembuka bicara.

Limau bintan di tepi tingkap
anak-anak melempar burung
harimau di hutan lagi kutangkap
kononlah pula cicak mengkarung

NoteNov 16, '11 3:18 AM
for everyone

Blog EntryMay 9, '11 8:58 PM
for everyone
Baru saya baca Kompasiana, sekarang pagi menjadi langganan saya. Ada seorang kompasianer yang bernama Nurtjahjadi ya seorang akademisi asal Indonmesia yang sedang bekerja di perguruan tinggi Malaysia. DItulisnya berita tentang Abu Bakar Baasyir versi (koran) Malaysia. Kemudiannya ada juga tulisannya yang memperkatakan maksud "tewas". Jika tewas di Malaysia hanya sekadar kalah bukan mati. Tetapi di makna Indonesia artinya mati. Ada seseorang merespon bahwa sebenarnya entri tews dalam bahasa Indonesia juga kalah bukan mati. Penggunaannya untuk mati hanyalah eufemisme/kesantunan bahasa. Hal ini memaksa saya pada pagi-pagi ini, membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI yang sesungguhnya tewas itu juga bererti kalah.
Pernah terbaca tulisan Rosihan Anwar Alm sekarang baru saya setujui dalam zamam order baru (Suharto Alm cs) dan Harmoko sebagai menteri. Eufemisme tewas banyak digunakan dalam pemberitaan di Aceh DOM sebelum jadi Dar er Salam. Dan akademisi tersebut saya pasti dididik dalam era orba seperti saya. Nah kembali ke kata tewas tadi, makna untuk kalah seolah-olah tidak diketahui lagi. Jika ada pemberitaan Timnas Malaysia tewas 1-5 kepada Timnas Indonesia pasti (tebakan saya) orang Indonesia akan tersenyum dan merasa geli ...karena sudah ada dalam mind setnya sudah pada mati itu pemain Malaysia ya namanya kan tewas!
Sayang ya, dalam akronim, anywordasi, merajalela orang kita dipersempit dengan makna yang selapis.

Blog EntryApr 22, '11 4:28 AM
for everyone
Kerajaan Malaysia telah memutuskan bahawa majikan harus membayar gaji pembantu rumah mereka melalui bank. Bagus jadi mahu atau tidak pembantu akan dapat memiliki kad/kartu ATM dan yaa...harus melalui penataran jugalah ku rasa bagi yang belum tahu urusan tekan/pencent nombor PIN dan segala macam. tapi nanti sudah pandai mereka jadi tahu gaji udah masuk atau tidak. Apabila libur 1 minggu pasport tidak dipegang majikan boleh lah keluar ke bank lihat duit. Ini perkembangan positif dari segala macam rungutan/laporan dan (complain) setidaknya sedikit sudah ada perkembangan di Malaysia. Kebajikan hak azasi manusia cuba dipenuhi syukur. Kita berdoa agar perkembangan seterusnya bagi saudara kita yang menjadi pembantu mendapat tempat yang layak sebagai manusia biasa.

Cerita-cerita gimana ya? pembantu rumah dalam negeri? yang sering  di"high light " di luar negeri yang di dalam negeri gimana? KOMPAS? ANALISA?pengen tau juga la....



Aku hanya menonton berita, MAL vs INA 3-0. Ku fikir kalah, rupanya menang pulak orang itu! apa itu badminton atau bola, bila ku dukung dengan penuh harapan mesti kalah!. Tapi hal yang terjadi di Stadium Bukit Jalil, pancaran laser dari penonton memang KESALAHAN. Sebaiknya biar pemain yang main bukan penonton yang ikut main.
Hal yang sama terjadi sewaktu di "telanjangi " kena 5-1 di Jakarta. Ada sinar laser hijau juga dipakai ke pemain MAL. Begitu juga sewaktu melawan Filipina. Keeper Filipin juga kena laser. Tapi kok pada diem semua?.He he he...
Ku rasa betul kata Pak Riedl beberapa faktor non teknis. Yang satu dijulang,gemilang,menang di kandang diundang, makang-makang,dang segala macang.Konfiden menang.
Yang satu penuh dendam,meredam,tidak mahu macam-macam,latihan berjam-jam.gara-gara tak mau dipermalu kali keduam (rhyming).
Semoga saja nanti lawan kali yang satu lagi biarkan pemain bola yang main bola. Yang nonton ya nonton saja....

Blog EntryDec 17, '10 3:10 AM
for everyone
Lucu juga setelah lebih kurang 20 tahun ku rasa tidak ada cerita tentang bola di warung kopi sekitar Penang. Kalau dulu zaman kegemilangan Medeka Cup dan Piala Malaysia setiap musim ada saja cerita. Apalagi kalau finalisnya Penang (atau mana-mana negeri )Vs Singapore Malaysia Cup. Di Penang nama-nama seperti Shukor Salleh, Isa bakar (alm), Fandi Ahmad, David Lee disebut-sebut. Setelah itu sepi @ tak ada cerita, yang pasti kerana tim kebangsaan (timnas) sering kalah. Kalau dulu layak ke olimpik Munich, ngalahkan England B dan seterusnya kemerosotan kekalahan demi kekalahan sehingga kalah dengan negara-negara yang baru mahu main bola seperti Myanmar, Laos dan Kamboja. Jika liga M masih ada pengikutnya sedikit, tapi kalau pasukan kebangsaan/timnas tak ada siapapun yang bercakap/berbicara kerana sering tiada harapan ;-).
Sekarang AFF Suzuki Cup, permulaanya sepi, setelah "ditelanjangi" timnas Indonesia 5-1. Eh...mulai merangkak-rangkak dan orang mulai memperkatakan sesuatu.Tadi pagi di cafe dekat tempat kerjaku ini, tidak kira partai oposisi atau yang memerintah, ras Melayu (Jawa,Minang,Aceh,Lubis),Sabah & Sarawak, Cina dan India. Berbicara dalam satu nada. Ach rupanya bola juga yang mempersatukan semua he he he.

Talking about competitions or sports, few things came across my mind due to recent development. There are countries now in this region started to "import" or "neutralize" (dont know whether this spelling is right) sportsman to represent the country. Well this is not new, USA has done that ages before. Look at the spelling of  Swarzernedge (I never got the correct spelling), Navratilova, Chang etc. The names shows everything.
Now l found out my beloved second home country, well known with a high spirit of patriotism or nationalism and this kind of spirit to my point of view is higher than what I experienced in my country of origin, did that. Talking about sport perhaps size and power is all about. Hundreds millions populations  unable to produce one good striker. To me if the winning point is the most important part well why not eleven players be it from Uruguay, Peru, Columbia :-).
Oh well the president of the association and I shared the same name ha ha ha ha...


Blog EntryOct 31, '10 11:50 PM
for everyone
Penang tadi sarapan nasi goreng separuh mi separuh, hujan terus menghimbau kenangan zaman mula kuliah, penghujung orientasi ada yang namanya inisiasi. Camping biasalah isinya tak ada apa-apa di Lau Kawar dingin, dingin dingin tambah dingin dimandiin (kok jadi Rinto Harahap?). Oh ceritra asalnya ialah makan nasi , lauk[ikan bahasa Medan] super mie. Aku yang baru kezutan budaya hanya minta mi sup saja, mbak senior kok keberatan masukkan ke piring ku! kenapa ya? nasi ada , mi pun ada, aku kalo makan mi ya mi saja...rupanya acchhhrghh ituh mi adalah lauknya untuk nasi ha ha ha ha. Makanya tak mau dia kasih mi saja harus ada nasi putih dulu baru disiram mi ke atas nasi!!!!. jadi kalo aku ambil mi saja nanti yang lain tak kebagian lauk/ikan mi itu.
Konklusinya dari situ lah aku belajar makan nasi + mi (sebagai lauk) cuma hari ini aku melihat mi di talam besar itu pun sedap/enak, nasi goreng pun ah enak juga jadi ku campurlah ala inisiasi anak Sastra USU.

Blog EntryAug 19, '10 9:37 PM
for everyone
Buku terkini L.Y Andaya, Leaves of The same Tree begitulah lebih kurang bunyi tajuknya. Hadir pula saya ke seminar Diaspora. Kita ini daun daripada/dari pohon yang sama.Kebetulan berita-berita yang dibaca dan didengari antara dua saudara (Indonesia/Mal) ini tidak sedap/enak. Insiden bisa kecil jika dianggap kecil,porposional tapi jika diperbesar maka besarlah jadinya. Benarlah kata orang tua-tua  "menangguk di air keruh" itu dapat ikannya. mengambil kesempatan, oportunis untuk melariskan jualan atau memunculkan diri memang sesuai pada ketikanya.
Bagi saya dalam apa pun juga tindakan, semua harus bermula dengan kebijakan dan berakhir dengan kebijakan. Kebijakan sudah diambil, ya biasalah "rumah sudah siap tapi tukul/martil masih berbunyi".
Saya yakin pada waktu-waktu berikutnya bakal/akan ada lagi problem/problema/masalah/insiden atau sewaktu dengannya. Abang dan kakak dan adik lahir dari/daripada perut yang sama pun sering terjadi insiden terkadang tidak bertegur sapa beberapa ketika sudah menjadi lumrah. Saya anggap insiden baru-baru ini di kawasan Bintan itu adalah sewaktu dengannya. Maklum saja sejarah membuktikan itu kawasan Hang Tuah mondar mandir bolak balik Melaka, Johor, gunung Daik. Benar juga kata org "safe the history from the nation" atau aku ragu-ragu menterjemahkan nya " selamatkan sejarah dari bangsa? kebangsaan?fahaman kebangsaan?".
"air dicincang tak kan putus","carik-carik bulu ayam, nanti bercantum juga".

Blog EntryJul 15, '10 10:42 PM
for everyone

Tiba-tiba terbaca Satu Lagi Pulau (di kawasan Kalimantan) Akan Terlepas ke Malaysia. Seperti kes/kasus yang pernah terjadi antara Pulau Jemur dengan Pulau Jemor. Tidak habis-habisnya fitnah disebarkan di sana. Sebentar lagi ada yang akan panas dan membuat reaksi...Hujungnya (apa ada pangkalnya ya?) sebuah negara dan seluruh isinya (termasuk Pakdin) akan dilumpuri dengan citra buruk lagi.

Lumpur dan segala kekotoran negara ini tidak pernah tercuci oleh ribuan malah jutaan warga yang kembali sehat/sihat dan sembuh setelah datang berobat/berubat di sini. Padahal fasilitas/ti yang dibina pada asalnya adalah untuk penduduk lokal sekarang telah dikongsi. Hal ini tidak menjadi masalah selagi segala proses mengikut tertibnya (ikut nombor panggilan, tiada calo, tiada orang yang potong baris gara-gara dia kaya ).Begitu juga pedagang yang sukses membuka restoran atau jual kain. Tambah lagi orang yang sedang kuliah dalam bidang ICT, Komputer, Animasi, Komunikasi dll.

Jadi apa mahunya golongan ini? Kalau saya jawabannya ialah "tidak ada kerjaan".


Blog EntryJul 4, '10 10:39 PM
for everyone

Ya sudah lama tidak menulis. Biasalah awal bulan beli barang untuk stok di super market (bahasa lama sekarang orang sebut TESCO,Giant,Hypermarket bla bla) ada beberapa orang gadis ku dengar bertanya pada "sales girl" Kak ! Rinso di mana? aku pertama merasa sudah faham benar tanpa merasa aneh, kalau aku yang ditanya pasti kutunjukkan di sebelah sana bahagian detergent.  Si sales girl ini kebingungan ha ha ha kemudian teman(pasti lebih lama di sini) si penanya itu menegur heh ! bukan Rinso!..detergen lah duh kau ini pun!..aku turut tersedar aku di Malaysia.

Memang kita di sini pun selalu berkata " eh Breeze dah habislah! kena beli Breeze!" padahal yang dibeli nantinya boleh jadi FAB, Trojan, Ekonomi Handalan,Attack (sekadar menyebut yang ku ingat) begitu juga Colgate! beli Colgate sekali ya! padahal yang dibeli nanti mungkin Colgate juga...atau Darlie,Sensodyne,Fresh and white...he he he..kita serupa....

Pepsodent di mana ya?




NoteMay 6, '10 10:35 PM
for everyone

Namanya juga MALINGSIA...kerjanya kan nyaplok istilah, budaya dan agama....kaga ada kerjaan. Emangnya kata "Allah" cman buat muslim doang??? Trus umat Nasrani di Palestina manggil apa dong buat sebutan Allah...dasar MALINGSIA!!!
 
 
Satu daripada komentar yang saya kutip. Saya kira isu ini sangat domestik. Mereka yang berkomentar merupakan orang yang tidak faham sentimen domestik. Kalau saya secara peribadi tidak mempermasalahkan hal itu. Memang di negara Palestine dan Lebanon itulah panggilan mereka kepada tuhan masing-masing. Walaupun saya tidak membuat generalisasi terhadap orang Indonesia tetapi melalui pengalaman saya di USA dan di Jepun saya melihat saudara muslim kita ya tidak makan ba#$ tetapi memakan ayam yang dibeli di wall mart, bi lo groceries di USA juga di Jepun. Ayam yang disembelih mengikut syari'at juga ada di kedai Pakistan atau Islam yang lain. Saya pernah bertanya kepada hamba Allah tersebut anda beli  ayam di sini? jawab : ayam halal kan dalam agama kita? ok saya jawab, tapi cara sembelihannya gimana? dia ter "pause" responnya oh iya iya !!....he he he 
Di sini saya peribadi katakan biar si dia ini bertoleransi dalam hal ini .( toch ich ben westerse akan menjadi darah daging nya bukan saya) Kalau saya biar harus 1 hour driving to Pittsburgh untuk ke kedai Saleem halal mart Muslims slaughter house akan saya lakukan juga.
Jika tiada sumber lain ikan pun masih banyak. Jika tiada juga hmm "darurat" bolehlah...cuma pertanyaan dalam hati saya tertelan atau tidak daging ayam itu ???  

LinkOct 20, '09 2:56 AM
for everyone
Link: http://www.gayongbalikpulau.blogspot.com

ya saya kembali aktif....

Blog EntryOct 7, '09 5:07 AM
for everyone
Saya tersentak membaca pesawat bantuan dari Malaysia ke Padang dilempari batu dan anggota penyelamat tetap terus menjalankan tugas. Semalam terbaca lagi bantuan Malaysia ditolak kerana ada unsur judi gara-gara Genting Highland, tetapi bantuan Thailand yang ada unsur pelacurannya? Jepang juga? Amerika yang Yahudi diterima? wuah jadi bingung saya. Barangkali kepala pusat distribusi itu tahu kotak-kotak mie instant itu adalah dari Yahudi yang sudah masuk Islam atau sumber dari pelacuran yang sudah taubat nasuha? : ( ?????

Di jalan-jalan utama kampus para aktivis PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Malaysia melaungkan bantuan kepada mangsa gempa. Di mesjid-mesjid juga para khatib menghimbau jemaah untuk membantu dengan meletakkan sajadah di pintu keluar mesjid para jemaah dapat menyedekahkan duit di atas sejadah itu dan kemudian disalurkan perwakilan Indonesia di sini.. Kalau sudah tidak mahu dibantu ya sudahlah (emosional). Di Malaysia ini duta-duta kecil Indonesia pun bermanis-manis muka seolah-olah tidak ada apa yang berlaku. Tapi dalam hati mereka tahu sekali bahawa sentimen yang dimulakan dari provokator media di sono sudah berhasil/berjaya. Setidaknya mereka ini membuat pencerahan.

Semakin dekat dunia ini ke akhir zaman umat sesama sudah terjadi karut marut. Asal hanya kerana tarian, makanan, kebudayaan berbalah-balahan kepemilikan negara atas rasa nasionalisme. Sentimen pulau yang diungkit-ungkit toh (ich ben inlander) para petugas resortnya juga warga siapa?

Saya ucap SELAMAT kepada provokator kerana anda sudah BERHASIL.

Blog EntryAug 25, '09 9:27 PM
for everyone
Ini dia artikel saya yang masuk surat khabar/koran Utusan Malaysia hari ini 26 Ogos 2009. Daripada 30 juta rakyat Malaysia sudah tahu....

Keliru penari Bali dalam iklan pelancongan Malaysia

SUDAH sekian lama saya ingin mengutarakan pendapat berkenaan dengan iklan pelancongan Malaysia di mata luar. Reaksi daripada pihak media Indonesia baru-baru ini mengejek Malaysia gara-gara menampilkan penari Bali dalam iklan pelancongan.

Kes tarian kepala singa dan lagu Rasa Sayang sudah selesai. Sekarang panas semula isu tarian Bali, ‘tari pendet’ pula muncul. Akan panaslah tempat duduk duta besar serta konsulat jeneral kita di sana, begitu juga Borhan Abu Samah, wakil Utusan Malaysia di Jakarta.

Melihat akan iklan tersebut, memang saya sendiri terkejut dan ada juga rasa malu, terhina dan sebagainya seolah-olah Malaysia tidak ada budaya, miskin kesenian.

Saya sebagai rakyat Malaysia secara peribadi juga berasa seolah-olah pihak-pihak yang terlibat dengan promosi Pelancongan Malaysia tidak sensitif akan hal ini. Banyak lagi budaya tempatan yang boleh dikatakan ‘serumpun’ dapat diangkat menjadi daya penarik.

Hal-hal yang berkaitan Bali itu jauh sekali untuk mewakili Malaysia, malah di Indonesia sekalipun, Bali seolah-olah berdiri sendiri. Jangan lagi digunakan alasan serumpun - selidiki dahulu.

Saya memohon Kementerian Pelancongan memantau penampilan-penampilan imej Malaysia dalam promosi-promosi budaya kita. Jika diikutkan emosi, saya cadangkan jangan tampilkan apa-apa juga yang ‘berbau’ Indonesia.

Barangkali hal ini dianggap kecil oleh sesetengah golongan, tetapi tidak bagi kami sebagai pengamat budaya.

Noordin
Minden, Pulau Pinang">



Category:Other
Tunku tak mahu pijak Pancasila


KHALID Yunus dan Samy Vellu menaikkan bendera Malaysia di Kedutaan Indonesia dan menurunkan lambang Pancasila.

--------------------------------------------------------------------------------


SEKALIPUN Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman menyedari perasaan marah rakyat Malaysia sedang memuncak terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia, tetapi apabila sekumpulan pemuda yang menunjuk perasaan pada 17 September 1963 di Kuala Lumpur meminta supaya beliau memijak simbol Pancasila negara Indonesia, Tunku enggan berbuat demikian.

Simbol itu telah diturunkan dari bangunan Kedutaan Indonesia di Jalan Ampang dan diseret dengan skuter dan motosikal ke kediaman Perdana Menteri di Jalan Dato Onn.

Khalid Yunus pemberita Utusan Melayu yang dihantar untuk meliputi tunjuk perasaan itu telah bertukar menjadi penunjuk perasaan yang menurunkan simbol itu dari anjung bangunan kedutaan.

Menurut Khalid apabila sampai di kediaman Tunku, mereka telah memanggil Tunku keluar dan kemudian mengusung Tunku dan menyuruh Tunku, "pijak! pijak! pijak!" simbol yang dibawa oleh mereka itu tetapi apabila Tunku enggan, mereka meletakkan Tunku di atasnya. Tunku berkata dalam dialek Kedah "awatlah hampa buat aku macam ni".(kenapa anda semua perlakukan saya begini)

Khalid nampak air mata Tunku tergenang tetapi tidak tahu sebabnya sama ada kerana terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan jiwanya atau kerana terharu dengan sikap mereka.

Sebagai Ketua Pemberita pada masa itu saya telah menugaskan Khalid untuk meliputi suatu perhimpunan yang dirancang secara kilat bagi membalas tindakan pemuda Indonesia di Medan demonstarsi menawan Konsul Malaysia di Medan.

Saya yang turut hadir di perhimpunan itu akhirnya terpaksa mengambil alih tugas Khalid membuat liputan dan menulis berita mengenainya kerana beliau tidak lagi menjalankan tugasnya malah berada di barisan depan pemuda yang berarak dari suatu perhimpunan yang bermula dari Padang Kelab Sultan Sulaiman Kampung Baru.

Perhimpunan itu telah mendengar pidato penuh bersemangat dan berapi-api mengecam konfrontasi. Antara pemidatonya ialah Ketua Pengarang Utusan Melayu, Melan Abdullah yang muncul sebagai Ketua Barisan Bertindak Rakyat Malaysia yang ditubuhkan secara kilat untuk melancarkan perang saraf ke seluruh negara bagi memerangi konfrontasi Indonesia.

Perarakan ke Jalan Ampang itu membawa sepanduk anti Parti Komunis Indonesia (PKI) dan mengecam Menteri Luar Indonesia Subandrio dan Presiden Sukarno. Salah satu sepanduk itu berbunyi "Sukarno kuda tunggangan Aidit."


Tunjuk perasaan itu berlaku menjelang perisytiharan penubuhan Malaysia pada petangnya tanpa mempedulikan bantahan Indonesia yang menganggapnya sebagai gagasan penjajah. Pada hari itu juga hubungan diplomatik antara Malaysia dengan Indonesia diputuskan.

Dalam perisytiharan penubuhan Malaysia itu Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman memberitahu perhimpunan lebih 20,000 orang di Stadium Merdeka.

''Kami bersedia untuk mengawal dan mempertahankan negara kami daripada serangan musuh dengan apa juga kuasa yang ada pada kami dan juga dengan nyawa kami" (lihat Looking Back )

Dalam perang saraf menentang Indonesia, Malaysia menumpukan serangan kepada PKI yang dipimpin oleh D.N. Aidit dan juga Subandrio. Sukarno lebih dilihat sebagai telah dipergunakan oleh PKI.

Ketua Setiausaha Kementerian Luar Negeri, Tan Sri Ghazali Shafie telah mendapat maklumat dari berbagai sumber, tentang Sukarno tidak lagi dapat menolak kekuatan PKI. Antaranya dari Duta Indonesia di Singapura, Sugiharto yang merupakan orang Sukarno.

Ghazali telah bertanya kepada Sugiharto kenapa Presiden Sukarno nampak bimbang dengan beberapa pihak yang diundang untuk menyertai persidangan puncak antaranya dengan Tunku Abdul Rahman di Tokyo pada Jun 1963. Sugiharto memberitahu Ghazali bahawa PKI adalah sangat tidak senang dengan rancangan pertemuan ini. (Lihat buku Ghazali Shafie terbitan UKM: Memoir on The Formation of Malaysia)

Ini, kata Ghazali menghairankan kerana selalunya Sukarno bercakap/bicara besar mendakwa beliau dapat mengawal PKI dan juga PKI tidak boleh mempengaruhinya, malah ini dipercayai oleh Amerika. Sugiharto memberitahu itu "hanyalah gendang kosong" dan beliau meminta Malaysia tidak menjadikan ini sebagai propaganda. Ghazali segera sedar bahawa Sugiharto adalah president's man yang anti komunis.

Perkara ini lebih jelas lagi dalam buku Leftenan Jeneral Kemal Idirs "Bertarung dalam Revolusi. Beliau yang tidak bersetuju dengan Sukarno telah ditugaskan dalam masa konfrontasi untuk menyusun gerakan menyerang Malaysia dari Sumatera.

Mencerminkan

Di muka 191 buku ini, Kemal menulis, ''Perubahan politik Bung Karno mencerminkan suasana yang makin keruh. Semula dia beranggapan dengan karisma dan kepimpinannya dia dapat menguasai PKI. Ini meniupkan angin sejuk bagi mereka yang bergerak di tengah PKI dengan politik Nasakom (Gagasan Sukarno untuk menyatukan nasionalis, agama dan komunis).

''PKI tidak mensiasiakan kesempatan itu. Mereka duduk di pundak Bung Karno, secara cerdik mempergunakan kesempatan untuk kepentingan mereka sekali gus memupuk kekuatan di tengah masyarakat. Pada tahun 1965, pada perayaan hari ulang tahun PKI, suasana di tiap kota berubah bagaikan lautan komunis. Bendera merah bergambar pada palu arit berkibar di depan rumah anggota mahupun simpatisannya sepanjang hari baik di kota mahupun di desa.

''Bung Karno selalu merasa mampu mengatasi PKI kerana menganggap mereka adalah Komunis Nasional. Apakah Bung Karno tidak mengetahui hubungan PKI dengan China Komunis itu sangat erat? Bahkan pola PKI adalah juga pola China Komunis yang sudah beralih dari Rusia," kata Kemal.

Sebenarnya punca ketakutan di pihak tentera dan nasionalis Indonesia itu yang anti komunis adalah juga merupakan kekhuatiran yang pada Tunku Abdul Rahman. Tunku khuatir kepada komunis kerana komunis di Malaysia adalah sebahagian besar orang Cina.

Tunku telah pun memberitahu Sukarno ketika beliau menemuinya sebagai Ketua Menteri Malaya dalam tahun 1956 bahawa orang Melayu di negara kecil Malaya melihat Indonesia sebagai negara yang dapat memberikan pimpinan dan bantuan sekalipun telah merdeka dan berdaulat (Lihat Looking Back).

Tunku tentu mempunyai banyak sebab untuk tidak mahu memijak simbol negara Indonesia. Antaranya ialah kerana sikap beliau yang sederhana yang selalu tergambar dalam pendekatan politiknya dan juga dalam sikap hidupnya.

Khalid Yunus yang mencatat sejarah sebagai orang yang berada di barisan depan dalam tunjuk perasaan yang pertama di negara ini terhadap Indonesia telah meninggalkan bidang kewartawanan di usia mudanya. Beliau menyertai politik.

Beliau antara lain pernah menjadi Setiausaha Politik kepada Menteri Pertanian Tan Sri Samad Idris, Setiausaha Parlimen dan juga Timbalan Menteri Penerangan.

Sejak persaraannya dari politik, Khalid aktif dalam bidang kesukanan. Beliau sekarang menjadi Presiden Persatuan Kembara Malaysia. Jika dalam usia mudanya beliau memanjat dan memacakkan bendera Malaysia di bangunan Kedutaan Indonesia, pada usianya yang menjangkau 70-an beliau telah mendaki beberapa gunung di dalam dan di luar negara dan memacak bendera Malaysia di mana beliau sampai.

Di antara gunung yang telah didakinya ialah di gunung tertinggi di Perancis Mont Blanc, gunung tertinggi di benua Amerika Selatan Gunung Acongcagoa Argentina, gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro Tanzania, Gunung Kerinci di Indonesia dan Gunung Everest. Sekalipun beliau tidak sampai ke puncaknya tetapi setakat mana beliau sampai di sana beliau memacakkan bendera negara.

Catitan:

l Memoir on the Formation Of Malaysia oleh Ghazali Shafie diterbitkan oleh Penerbit UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia).

l Kemal Idris Bertarung Dalam Revolusi disusun oleh Rosihan Anwar, Ramadhan K.H., Ray Rizal dan Din Majid diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan Jakarta.

l Looking Back oleh Tunku Abdul Rahman Putra diterbitkan oleh Pustaka Antara Kuala Lumpur dan terjemahannya Coretan Kenangan Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj diterbitkan oleh Jabatan Penerangan Malaysia.

Minggu depan: Antara Tunku, wartawan, seniman dan budayawan

- Zainuddin Maidin ialah bekas Ketua Pengarang Kumpulan Utusan. e-mel: zainudinmaidin@gmail.com


Pages:123456